Sukses Menggapai Atap Indochina

dok. KMPA Eka Citra

Vietnam, negeri yang sempat porak poranda akibat peperangan amat panjang, kini sedikit demi sedikit mulai menunjukkan taring di dunia internasional. Tim nasional sepakbolanya misalnya mulai diwaspadai di kawasan ASEAN. Ekonominya juga membaik dan beberapa tempat wisatanya mulai diunggulkan. Kami mendapat kesempatan mengunjungi Vietnam dalam rangka pendakian “atap Indochina” yaitu Gunung Fansipan yang memiliki ketinggian 3.143 mdpl. Sekaligus kami ingin memotret secara langsung bentang alam beserta kehidupan masyarakatnya.

Dengan sedikit rasa khawatir, karena seluruh tim adalah perempuan, kami sambangi Vietnam. Kami tiba di Kota Hanoi setelah melewati perjalanan dari Jakarta. Sedikit anekdot, Vietnam rupanya sangat menghormati mendiang Ir Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia karena sikapnya yang menentang imperialisme modern. Saat kami tiba di Hanoi misalnya, seorang warga Vietnam menyapa dan menanyakan asal kami. Saat dijawab bahwa kami datang dari Indonesia, orang itu langsung menyahut, “I Love Indonesia, Soekarno!!”. Rupanya KBRI di Hanoi tidak banyak tahu mengenai Fansipan yang merupakan puncak tertinggi di kawasan Indochina dan masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Hoang Lien Son. Kekhawatiran menebal ketika kami mendapatkan kabar bahwa Desa Sapa, yang merupakan titik awal pendakian, disebut sebagai daerah yang masih primitif dan di sana masih banyak terjadi kejahatan seksual.

Namun kemudian Mr Trong, seorang agen tur pendakian Fansipan dari Sapa, membantah kabar tersebut. Katanya, Sapa merupakan desa modern yang sudah menjadi kawasan pariwisata terpadu sehingga kami tidak perlu khawatir. Dia berjanji akan menjamin keselamatan kami.

Gunung Fansipan terletak sebelah barat tenggara Vietnam dan berbatasan langsung dengan China. Kawasan ini dinobatkan menjadi Asean Heritage Garden oleh ASEAN karena keanekaragaman hayatinya yang khas monsun sub-tropis Asia.

Baca lanjutannya di MountMag edisi 11…

(Ulfa Maryana)