MAHITALA

Universitas Parahiyangan (Unpar), Bandung. Earth, erde, terre, tierra, terra, mahitala, adalah barisan kata-kata yang berdiri dalam bahasa berbeda namun sesungguhnya bermakna sama: Bumi. Dan bukan dari bangsa manapun, melainkan lidah orang-orang Jawa Kuno berbahasa Kawi-lah yang melahirkan kata Mahitala. Kata kuno tersebut kemudian disadari oleh beberapa mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung, yang hobinya bercengkerama dan berkenalan dengan kebebasan alam Nusantara. Bersamaan dengan tercetusnya ide mendirikan wadah pencinta alam oleh para senior Angkatan Pelopor tersebut, maka secara resmi organisasi/ perhimpunan MAHITALA berdiri pada tanggal 8 April 1974.

Kini, bendera kuning dan semboyan “Nothing more than the corps” telah hidup selama hampir 39 tahun dan melahirkan 35 angkatan. Tak terasa niatan untuk sekedar mewadahi kegiatan berjalan-jalan di gunung dan camping ceria di hutan, telah berhasil merintis sebuah organisasi yang terus berkembang dan beregenerasi hingga beranggotakan sekitar 900 orang anggota aktif. Tidak hanya itu, MAHITALA pada hakekatnya juga merupakan sebuah unit kegiatan kampus yang senantiasa mengenalkan mahasiswa dengan alam negerinya sendiri. Mengajarkan penghayatan terhadap Tuhan YME, rasa cinta tanah air, dan kesadaran akan kedisiplinan diri serta cara bermain di alam bebas sebagai seorang pencinta alam yang baik dan rapi.

Berangkat dari keinginan mengenal diri dengan mengenal alam, anggota MAHITALA tidak hanya bermain di daerah gunung dan tebing, tetapi juga menyentuh kedalaman perut bumi dan keheningan bawah laut hingga liarnya jeram-jeram sungai serta keunikan suku-suku pedalaman negeri Ibu Pertiwi. Karena itu, dapat dikatakan kegiatan outdoor-sport MAHITALA meliputi enam kegiatan utama: mountaineering, rock climbing, white watering, caving, dan diving, ditambah pengamatan masyarakat tradisional (PMT). Sebagai “mahasiswa pencinta alam”, ruang lingkup MAHITALA tidak hanya berkegiatan outdoor-sport, tetapi juga mencakup kegiatan pengabdian masyarakat, search and rescue dan konservasi alam. Di samping itu, semangat untuk berprestasi yang digeluti rasa penasaran pun selalu menyertai langkah para anggota MAHITALA dalam perjalanannya menjelajah alam bebas.

Beberapa perjalanan yang terbesar diantaranya mulai dari Ekspedisi Maoke Irian Jaya, berupa pendakian dinding tegak Puncak Trikora, penelusuran dan pemetaan gua, pengamatan ora-fauna, dan geologi, serta program kemasyarakatan di Lembah Baliem (1983); Ekspedisi Karst Mangkalihat (1988); Ekspedisi Arus Deras Sungai Bahau, Kalimantan Timur (1990); Ekspedisi Celebes (1993), berupa pemanjatan tebing Tinoring, Tana Toraja, penelusuran gua-gua karst di Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan dan penyelaman di Kepulauan Togian, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah; Ekspedisi Arung Jeram Uwai Lariang di Sulawesi Selatan (2000); Ekspedisi Pegunungan Sudirman Papua (2009) berupa pendakian 9 puncak di Pegunungan Sudirman dimana 4 puncak tidak bernama ( rst ascend); Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (2009 -2011) berupa pendakian tujuh puncak tertinggi di masing-masih benua.