Mengenal Pesona Pegunungan Serayu Utara

Pesona Pegunungan Serayu Utara | Jenggot

Bagi sebagian orang, Dieng (plateau) adalah sebuah tempat wisata dengan pemandangan danau dan kaldera yang indah. Di samping itu produk kebudayaan seperti candi menjadi daya tarik lain yang membuat dataran tinggi Dieng menjadi terkenal sebagai tempat wisata. tetapi bagi sebagian yang lain.

Dieng tidak hanya sebuah tempat wisata alam yang indah. Dieng juga merupakan sebuah kompleks gunung api yang berumur “cukup tua” dengan sejarah yang sangat panjang. Kompleks gunung api Dieng berada di jalur pegunungan Serayu Utara yang saya kira merupakan satu-satunya tempat di Jawa Tengah yang masih sedikit dieksplorasi, baik dari sisi wisata, sumber daya alam dan perekonomian.

Ekosistem pegunungan Serayu Utara
Di sisi barat kompleks Dieng bahkan saya kira masih banyak tempat eksotis yang masih belum terjamah perabadan modern. Ketika banyak Lembaga Swadaya Masyarakat dan kaum urban mengkampanyekan penyelamatan fauna endemis seperti elang jawa, oa jawa dan macan tutul, yang sudah punah di banyak tempat di pulau Jawa, justru di wilayah pegunungan Serayu Utara ini fauna endemik Jawa tersebut masih hidup damai tanpa gangguan deforestasi dan aktivitas pembangunan. Saya tidak sedang bermaksud untuk mengeksploitasi kekayaan ekosistem kawasan ini, tetapi fakta bahwa endemisitas flora dan fauna yang masih terjaga di sana adalah sebuah kemenangan dari konsep hidup yang tradisional yang menjadikan alam sebagai sumber kehidupannya.

Misalnya hutan alami di utara Batur hingga Kali Tengah adalah contoh kompleks ekosistem Jawa masa lalu yang endemik, dan hingga kini masih terjaga denga baik. Bagi saya, morfologi pegunungan Serayu Utara (Dieng purba pra kaldera) lah yang membuat wilayah itu menjadi terisolasi dan tidak mudah untuk mendapat “kue pembangunan” dari pemerintah pusat.

Tetapi justru keanekaragaman flora dan faunanya tetap terjaga. Sampai di sini mungkin ada yang beranggapan bahwa pembangunan dan modernisasi di sebuah wilayah selalu identik dengan perusakan alam dan ekosistemnya. Bagi saya sah-sah saja jika ada yang berpendapat demikian karena memang banyak hutan dan isinya yang rusak justru karena efek dari pembangunan dan modernisasi wilayah yang dilakukan oleh manusia.

Sebagai pembanding, ketika tahun 1997 saya mendaki gunung Slamet (yang merupakan batas paling barat pegunungan Serayu Utara), saya masih menyaksikan puluhan oa jawa bergelantungan di hutan antara Pondok Cemara hingga Samarantu. Batas hutan pun saat itu masih sekitar setengah jam perjalanan saja dari pos pendakian (dulunya pos pendakian gunung Slamet berada di bangunan koperasi di ujung jalan desa Bambangan). Tetapi ketika terakhir mendaki Slamet pada tahun 2008 tidak ada lagi oa jawa yang saya temui. Batas hutan pun semakin tinggi dan berganti dengan ladang sayuran penduduk.

Tragis memang, karena hanya dalam sepuluh tahun saja habitat oa jawa yang merupakan primata endemik ini sudah rusak. Lalu kemana kawanan oa jawa bermigrasi? karena sepengetahuan saya, oa jawa tidak bisa hidup diatas tanah.

Baca lanjutannya di Mountmag edisi 9…

(Jenggot)