Erik Weihenmayer, MIMPI ITU BERMULA DI PUNCAK DENALI

Erik Weihenmayer | Anwar

Dia kini dikenal sebagai seorang seven summitter. Orang yang pernah mencapai tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh dunia. Erik Weihenmayer memulai prestasinya itu dari atap Amerika, Gunung Denali atau McKinley. Dan dia juga seorang tuna netra.

Hari itu kami terbang ke Anchorage lalu lanjut naik mobil ke sebuah lapangan terbang kecil di Talkeetna. Muatan barang ratusan kilogram dimasukkan ke sebuah pesawat Cessna. Sepuluh menit kemudian kami mengangkasa, tinggi di atas jajaran pegunungan Alaska Range.

Setelah terguncang-guncang oleh angin, pesawat mendarat di Kahiltna Glacier. Suasana sunyi sepi. “Ayo cepat bongkar barang-barang ini,” teriak pemandu kami, Chris Morris. Seorang anggota tim, Ryan, dengan gagah mengangkut banyak ransel sekaligus. Dia memang kuat. Kami lalu menggali es dan meratakannya supaya bisa membangun tenda. Meski buta, saya tetap ikut bekerja keras, tidak dibeda-bedakan dengan yang lain. Cuaca begitu buruk malam itu. Di luar terdengar deru dua helikopter. Mereka berputar-putar mencari seorang pendaki Spanyol yang terjatuh saat turun gunung. Ada juga sekelompok pendaki Taiwan yang terjebak oleh badai salju.

Esok harinya, kami masing-masing menarik kereta salju berisi ransel dan peralatan lain yang bobotnya sampai di atas 30 kg. Karena terikat satu sama lain, saya bisa mengikuti pergerakan kawan di depan. Chris di depan, saya di tengah, dan teman lainnya Sam di paling belakang. Rekan-rekan lain masuk di tim kedua. Saya melacak jalur dengan ujung trekking pole, merasakan lobang bekas injakan kaki Chris. Ini berlangsung berjam-jam.

Di hari kelima ada berita sedih. Ryan harus turun gunung. Dadanya sakit dan itu diduga karena bermasalah dengan jantungnya. Aku duduk di dekatnya dan dia menangis. “Aku sudah lama mimpi ingin naik gunung ini,” ujarnya dengan suara bergetar. “Aku bahkan sudah membuat kalung salib khusus bertulis nama tim kita, HighSights ’95. Semula aku ingin menanamnya di puncak Denali. Kini aku ingin kau yang memakainya”. Ryan lalu mengalungkannya di leher itu dan kami sama-sama menangis.

Baca lanjutannya di Mountmag edisi 8…

(Anwar)