Melihat Panorama Dieng yang Sebenarnya Dari Gunung Prahu dan Gunung Pakuwaja

Melihat Panorama Dieng | Harley

Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau), nama yang sudah tidak asing lagi di kalangan para pelancong lokal maupun asing. Namun, Dieng bukan hanya Telaga Warna, Komplek Candi Dieng atau Arjuna, Kawah Sikidang, Gunung Sikunir ataupun anak-anak berambut gembel. Karena Dieng masih banyak menyimpan berjuta pesonanya yang belum tereksplor. Seperti Gunung Prahu dan gunung Pakuwaja.

Pendakiannya yang relatif singkat menuju puncaknya yaitu sekitar 2-3 jam dengan berjalan santai membuat keduanya wajib untuk disambangi. Kedua-duanya menawarkan panorama dataran tinggi dieng yang berbeda dan menakjubkan.
Panorama dieng yang sebenarnya.

Jumat, 2 Juni 2011, saya bersama delapan orang teman kembali mengunjungi Dieng. Namun, kali ini kami akan mengunjungi dua tempat yang jarang sekali di datangi para wisatawan. Kami akan mendaki gunung Prahu – puncak tertinggi Dieng dan gunung Pakuwaja – gunung yang di tengah-tengahnya terdapat batu besar menjulang tinggi seperti paku. Panorama keindahan Dieng Plateau dan kawasan sekitarnya dari kedua puncak gunung ini akan memukau siapa saja yang melihatnya.

Gunung Prahu – Puncak Tertinggi Dieng
Sebelum Dzuhur minibus yang kami carter dari Wonosobo tiba di terminal Dieng. Hotel dan Restoran Bu Jono yang terletak di sisi terminal menjadi tempat persinggahan awal kami. Disini kami makan siang dan menyiapkan kembali perlengkapan serta perbekalan untuk pendakian. Tempat ini pula yang menjadi titik awal perjalanan kami menuju gunung Prahu.

Sekitar pukul 13.30 WIB, perjalanan kami mulai menuju belakang terminal Dieng atau belakang Hotel dan Restoran Bu Jono. Setelah berjalan sekitar lima menit melalui anak tangga di sisi rumah penduduk dan menyusuri jalan beraspal, kemudian kami memasuki ladang kentang dan sayur penduduk. Para petani masih terlihat sibuk dengan ladangnya saat kami melaluinya. Sekitar 15 menit kemudian kami memasuki batas ladang yang ditandai dengan papan petunjuk milik perum perhutani.

Kami berjalan melalui jalan setapak diantara semak dan ilalang dengan sedikit hutan. Setelah berjalan sekitar 30 menit, kami berisitirahat sejenak pada dataran yang cukup lapang dan teduh. Dari tempat ini terlihat Dieng, lembah dan punggungan.

Baca lanjutannya di Mountmag edisi 8…

(Harley)