Ine Febriyanti – Antara Gunung, Film, dan Seni

Ine Febriyanti menyusuri sawah | Dok. Pribadi

Mungkin tidak banyak orang yang tahu jika artis cantik Ine Febriyanti yang biasanya kita lihat di layar kaca atau layar lebar adalah juga seorang pendaki gunung. Bahkan ia tidak sungkan- sungkan untuk makan cacing saat mengikuti jungle survival. Seperti apa sosok wanita cantik yang baru saja meluncurkan film terbarunya “Tuhan Pada Jam 10 Malam”. Film yang skenario dan disutradarai sendiri olehnya. Bagaimana akti tas mendaki gunung berpengaruh dalam dunia film yang selama ini dia geluti. Berikut petikan wawancara online, redaksi MountMag, Harley B. Sastha, belum lama ini.

Bagaimana awal mula Anda mengenal kegiatan pendakian gunung dan sejak kapan?

Sejak kecil, saya dekat dengan alam. Ayah saya sering mengajak saya berjalan kaki menyusuri sawah dan hutan kecil ketika kami tinggal di pulau Bali. Saat kelas 1 SMA, saya ikut kelompok pecinta alam di sekolah. Di sana saya belajar banyak tentang pendakian. Ikut jungle survival selama seminggu, dan paling tidak dua minggu sekali mendaki gunung.

Apa yang membuat Anda kemudian akhirnya terkesan dengan aktifitas mendaki gunung dan akhirnya terus aktif mendaki hingga kini?

Awalnya adalah kebersamaan yang luar biasa menyenangkan bersama kawan kawan. Saya ingat dulu ketika SMA, kami selalu menyetop truk di jalan dan ikut truk tumpangan sampai ke tempat terdekat lokasi pendakian yang dilewati truk itu. Berjalan kaki menyusuri pematang sawah sambil menyanyikan lagu favorit bersama, tinggal di rumah penduduk dan mengenal kebiasaan penduduk setempat, dan merasakan sejuknya udara yang menerpa wajah kita saat berjalan menyusuri hutan dengan pemandangan yang indah. Herannya, pada saat pendakian kadang saya menyesal dan mengutuk diri. Betapa bodohnya saya meninggalkan kasur yang empuk di rumah, dan membayangkan berleha leha di sofa kesayangan pada saat lelah menanjak track berat yang tak sampai sampai. Tapi begitu sudah kembali turun di kaki gunung, saya sudah rindu ingin naik lagi ke puncak. Lucu.

Bisa ceritakan kepada para pembaca MountMag salah satu pengalaman mendaki gunung yang paling tidak bisa Anda lupakan hingga kini?

Saat mengikuti jungle survival di kelompok pecinta alam sekolah di bangku kelas 1 SMA. Ketika itu kami harus membuat tenda sendiri dengan bivak, hanya membawa pisau multifungsi, paraf n dan garam. Memakan tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan, bahkan saya makan cacing putih yang dipanggang dan ternyata rasanya lezat. Hahaha…dan sepulang dari jungle survival itu, selama 5 tahun berturut2 saya tidak pernah sakit bahkan terserang flu sekalipun. Dari sana saya tahu, ternyata beberapa tumbuh2an di gunung enak disantap meskipun cuma digarami.

Kalau tidak salah, Anda kenal dengan suami saat mendaki gunung? Kalau boleh cerita sedikit dong mba.

Sekitar tahun 1996 saya mendaki gunung Ceremai. Pada saat saya turun dan hampir mencapai kaki gunung, saya bertemu sekelompok pendaki yang sepertinya minim perbekalan. Karena perbekalan saya masih banyak, saya dan teman-teman membagi perbekalan kepada salah seorang pendaki bernama Yudi Datau. Kami berkenalan dan mengobrol. Tadak lama. Lalu kami melanjutkan perjalanan masing masing. Sekitar dua bulan kemudian, saya terlibat syuting di sebuah drama serial yang diproduksi Mira Lesmana. Saya kaget, ternyata kameramennya adalah orang yang pernah saya temui di gunung Ceremai. Kami bersahabat. Dan di tahun 2003 selang 7 tahun setelah pertemuan di gunung Ceremai itu, kami menikah.

Baca lanjutannya di Mountmag edisi 7…

(Harley B Sastha)