Menyusuri Punggung Naga Gunung Daik

Menyusuri Punggung Naga Gunung Daik | Harley B Sastha

Tingginya sekitar 1.165 meter. Tiga puncaknya menjulang tinggi bagaikan mahkota. Menggoda para pendaki untuk menggapainya. Hingga kini belum satupun pendaki yang sudah dapat menggapainya. Namun, pengalaman menyusuri punggung naga. Gunung Daik adalah sebuah pengalaman yang sulit untuk dilupakan.

Tidak terasa sudah hampir dua pekan tahun 2011 berlalu. Malam itu, 14 Januari 2012, saat sedang menyelesaikan tulisan dan menyortir foto-foto bahan pelengkap buku kedua dari Buku Mountain Climbing for Everybody, saya menemukan kembali beberapa catatan saya tentang Gunung Daik. Salah satu gunung yang berada di Propinsi Kepulauan Riau.

Namanya boleh jadi asing di telinga para penggiat alam bebas yang tinggal di luar Sumatra. Namun, siapa saja yang pernah menjelajahi gunung ini, niscaya decak kagum pun akan membuncah dari dalam hatinya. Unik, eksotis, penuh misteri dan menyimpan berjuta pesona. Mungkin seperti itulah apa yang saya dapat rasakan saat itu. Atau mungkin demikian pula halnya dengan apa yang dirasakan para pendaki lainnya yang pernah menginjakkan kakinya di Gunung Daik. Namun yang pasti gunung dengan ketinggian sekitar 1.165 meter ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat rumpun Melayu.

Namanya tidak jarang dikaitkan dalam beberapa pantun yang berkembang dimasyarakat. Salah satu pantunnya yang santhat populer yaitu: Pulau Pandan jauh di tengah; Gunung Daik bercabang tiga; Hancur badan dikandung tanah; Budi baik dikenang juga.

Sekitar bulan Mei, 2010, saya bersama Yadi, Ajo, Joli, Chandra dan Firman mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Pulau Lingga, Kabupaten Lingga, Prop. Kepulauan Riau, dalam rangka untuk menggali beberapa potensi alam dan budaya yang ada disana. Dan pendakian ke Gunung Daik, merupakan bagian dari perjalanan tersebut.

Malam, 19 Mei 2010, pukul 20.30 WIB, setelah menempuh penerbangan sekitar satu jam, pesawat yang kami gunakan tiba di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Kota Tanjung Pinang, Prop. Kep. Riau. Bang Yus, pegawai di pemda setempat, malam itu mengantar kami menuju salah satu penginapan di Kota Tanjung Pinang.

Menikmati kuliner khas masyarakat melayu di Melayu Square menjadi awal perjalanan kami malam itu. Menurut Bang Yus, Melayu Square merupakan salah satu tempat yang harus dikunjungi untuk menikmati berbagai jajanan dan makanan laut khas melayu. Lokasinya yang berada tidak jauh dari Monumen Raja Haji Fisabilillah, di tepi Pantai Tanjung Pinang, membuat suasananya semakin terasa berbeda. Tidak terasa, malam semakin larut, kami pun bergegas kembali ke penginapan untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan penyeberangan laut menuju Pulau Lingga keesokan harinya.

Baca lanjutannya di MountMag Edisi 6…

(Harley B Sastha)