UELI STECK, Berburu Puncak Tinggi

UELI STECK | Robert Boesch

Ekspedisi pendakian gunung-gunung di Himalaya yang dilakukan UELI STECK berbeda dari pendaki lainnya. dia bertekad mencapai puncak-puncak bersalju dalam waktu secepat-cepatnya.

UElI STECK, yang terkenal di dunia pendakian dengan julukan Swiss Machine berkat sebuah film berjudul serupa yang mendokumentasikan prestasi-prestasinya, sempat berjanji kepada istrinya bahwa dia akan berhenti mendaki solo.

Nammun ketika pendaki berusia 34 tahun asal Ringgenberg itu membuka pintu tendanya di malam tanggal 16 April dan memandang dinding barat daya Shishapangma yang berketinggian 26 ribu kaki di Tibet, Steck melupakan janji tersebut.

“Saya waktu itu cuma berpikir mau mendaki sampai ketinggian 7.200 meter saja,” tutur pemanjat yang disponsori produsen peralatan Mountain Hardwear tersebut. Steck akhirnya berhasil mendaki Shishapangma dengan rekor waktu 10,5 jam. “Ternyata pendakian berlangsung dengan cepat dan sukses,” ujarnya seperti dikutip majalah Outside beberapa waktu lalu.

Keberhasilan di Shishapangma tersebut menelurkan Project Himalaya. Itu merupakan rencana Steck di 2011 untuk menggapai tiga puncak berketinggian 8.000 meter dalam satu tahun.
Di awal Mei, dia telah menyelesaikan pendakian Cho Oyu yang berketinggian 26 ribu kaki lebih. Selanjutnya target Steck adalah puncak Everest.

Tetapi pada 21 Mei, dalam cuaca yang sangat dingin, Steck terpaksa turun lagi meski puncak Everest tinggal 100 meteran lagi. Everest memang tidak bisa dipandang enteng.

Meskipun dia belum berhasil menyelesaikan pendakian-pendakian menakjubkan itu, bisa dipastikan Steck akan terus membuat prestasi di dunia mountaineering.

Di antara para pemanjat, Steck lebih banyak terkenal karena video pemanjatannya yang dimuat ke YouTube dan ditonton banyak orang.

Ketika itu dia mampu memanjat seorang diri di sisi utara Eiger yang terjal dengan ketinggian 5.940 kaki. Dia memanjat tanpa tali dalam waktu 2 jam 45 menit. Itu lebih cepat satu jam lebih dari rekor sebelumnya yang dipegangnya sendiri. Bandingkan dengan tim lain yang perlu berhari-hari untuk pemanjatan serupa. Untuk mampu memanjat secepat itu pada tebing terjal dan tinggi, Steck melakukan latihan intensif. Tahun lalu dia menempuh lebih dari 1.200 jam latihan endurance di bawah bimbingan pelatih Simon Trachsel dari Swiss Olympic Medical Center.

“Steck memperlakukan pendakian secara lebih serius daripada orang lainnya,” ujar teman berlatihnya, Simon Anthamatten. Namun risiko dari gaya pemanjatannya juga sungguh besar.

Baca lanjutannya di MountMag Edisi 4…

(M Anwar S)