DEMPO dari Mata hati

Gunung Dempo | gosumatra.com

Touch down – kami tiba di bumi Sriwijaya dalam keadaan sehat serta disambut cuaca cerah. Setelah mengurus bagasi segera kami menuju travel di mana kami telah memesan jauh hari sebelumnya untuk mengantar kami ke Pagar Alam. Kota Palembang, sama panasnya dengan Jakarta. Macet juga kerap terjadi dimana-mana.

Travel Telaga Biru terletak tepat di pinggir Jalan Sudirman. Bangunan seperti toko yang dimanfaatkan sebagai kantor travel. Pintu masuknya tidak terlalu lebar. Bagian depan tidak terdapat jendela. Tempat menerima tamu tidak terlalu luas. Sudah menunggu beberapa calon pelanggan di ruang tamu tersebut. Selesai melakukan pembayaran, kami menunggu diluar kantor tersebut.

Sambil menunggu keberangkatan sore itu, kami sempatkan belanja beberapa keperluan yang kurang, seperti spirtus, obat-obatan dan tentu makanan bekal kami di jalan menuju Pagar Alam.

Tak banyak yang dapat dilihat sepanjang perjalanan menuju Pagar Alam, berhubung kami memilih perjalanan sore. Menjelang tengah malam kami tiba di Pagar Alam.

Dingin menusuk. Suasana kota yang telah terlelap nyenyak diselimuti dingin. Malam itu kami berjalan mengendap-ngendap seperti pencuri menuju kamar belakang rumah Bapak Anton.

Bapak Anton adalah salah satu panutan para pendaki. Rumahnya selalu terbuka untuk mereka yang ingin mendaki Gunung Dempo. Bahkan kerap kali beliau bersedia membantu kelancaran pendakian.
Bantuannya antara lain menyediakan trans- portasi menuju titik awal pendakian, mengurus perizinan, bahkan memasak untuk bekal pen- dakian. Jasanya tidak pernah dibandrol, suka rela saja.

Rumah bagian belakang Pak Anton seperti sudah disiapkan buat kami. Pintunya tidak terkunci. Rumah panggung yang sederhana, namun nyaman untuk istirahat. Dinding dan lantainya dari kayu.
Banyak coretan dan beberapa tempelan stiker didinding itu. Ada beberapa tiker yang telah digelar. Cukup sebagai alas tidur. Lelahpun kami lepas dalam sunyinya malam.

Baca lanjutannya di MountMag Edisi 4…

(SWASTI)