Asyiknya memasak saat di GUNUNG

Hampir sebagian besar pendaki, terutama pria, pandai memasak. Mulai dari memasak makanan praktis siap saji sampai makanan rumahan yang diolah dengan apik. Bukan ingin bicara gender, tapi pada kenyataannya seperti itulah. Mereka pandai mengatur logistic, menyusun menu hingga mengolah menu. Kadang saya terbengong-bengong dengan cara mereka memasak. Rasa yang dihasilkan dari racikan mereka tidak kalah dengan koki-koki handal ternama. Silahkan bila ingin mengujinya. Sampai akhirnya sayapun menyukai kegiatan memasak pada saat pendakian.

Bagi saya, memasak pada saat pendakian merupakan salah satu kegiatan yang sama menariknya dengan pendakian itu sendiri. Seolah saya seperti ditantang dimana harus menyiapkan makanan pada saat kondisi tubuh cukup lelah, dingin serta tuntutan akan perbaikan kalori untuk bekal melanjutkan perjalanan. Terkadang saya menganggap memasak menjadi salah satu kegiatan yang dapat mengalihkan rasa dingin meski sugesti saja sebenarnya.

Sebelum memikirkan makanan apa yang akan dibawa serta bagaimana mengolahnya, hal yang menjadi perhatian adalah lama perjalanan serta karakteristik tempat atau gunung yang akan didaki. Lama perjalanan akan mempengaruhi jenis makanan yang akan dibawa. Berkenaan dengan kepraktisan mengemas, daya tahan bahan makanan serta kemudahan mengolah. Sedangkan karekteristik lokasi atau gunung yang akan didaki, berkenaan dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pendakian itu sendiri, ketersediaan air di jalur pendakian serta tingkat kesulitannya.

Misal saja pendakian Gunung Gede atau Pangrango, kedua gunung ini masuk kedalam kategori mudah didaki, dengan jalur yang jelas, serta ketersediaan air yang cukup banyak. Maka hanya membutuhkan waktu dua hari pendakian. Oleh karenanya, kita cukup membawa makan siang di hari pertama dengan roti isi, buah atau jus atau sesuai selera. Selanjutnya makanan yang diolah adalah makan malam dan makan pagi serta makan siang dihari berikutnya. Karena kedua gunung ini memiliki sumber air yang cukup banyak, maka kita cukup leluasa untuk memasak variasi makanan yang lebih kaya. Berbeda dengan jalur pendakian ke Gunung Salak, dimana sumber air sangat terbatas, sehingga harus diperhatikan jenis makanan yang akan dimasak, apakah membutuhkan tambahan air atau tidak. Lain halnya dengan pendakian yang memakan waktu lebih dua hari atau masuk dalam kategori ekspedisi. Managemen logistik yang baik sangat lebih diperlukan.

Setelah menentukan berapa hari perjalanan, berikutnya memilih alat masak, terutama kompor yang akan dibawa. Alat masak yang telah dikenal luas oleh para pendaki, mulai dari yang berbahan bakar para n, gas, spirtus hingga multifuel. Kompor tentara dengan bahan bakar para n merupakan salah satu kompor yang masih sering dipakai dikalangan pendaki. Mudah dikemas dan cukup praktis masuk kedalam carrier. Namun memiliki aroma yang kurang sedap, tetapi cukup handal untuk dijadikan perlengkapan cadangan. Kompor butter y dengan bahan bakar gas juga merupakan salah satu kompor yang sama praktisnya saat dikemas dan masuk kedalam carrier. Bahan bakarnya juga banyak tersedia di supermarket-supermarket. Namun saya orang yang penakut dengan kompor jenis bahan bakar ini, mudah meledak bila terjadi kebocoran kecil saja. Masih banyak lagi varian kompor-kompor outdoor yang banyak tersedia dengan masing-masing keunggulannya serta kekurangnnya.

Baca lanjutannya di MountMag Edisi 3…