Alam Mengasah Kepribadian

Adiseno di Refugio Dolomit Alps | Hendricus Mutter

Bertualang sejak kecil, adiseno banyak belajar dari kegiatan di alam bebas.

Pengalamannya dalam dunia pendakian di Indonesia dan internasional tidak perlu diragukan lagi. Aktivitas pendakian gunung juga mengantarnya menjadi salah seorang journalis.

Seperti apa sosok Adiseno, pendaki gunung dan wartawan senior yang tidak pernah bosan membagi ilmu serta pengalamannya ini? Berikut petikan wawancara redaksi Mountmag dengannya be- berapa waktu lalu.

Bagaimana awal mula Anda mengenal dunia pendakian gunung dan akhirnya me- mutuskan menggeluti aktivi- tas ini?

Tahun 1974, ketika saya kelas 1 SMA 3 Jakarta, saya berkenalan dengan teman Farid Djamirin yang dipanggil Bubby, yang mengajak saya mendaki Gunung Gede. Pengalaman berada di lereng puncak dengan awan berada di bawah kemah kami yang di batas hutan memikat saya untuk kembali dan kembali ke gunung hingga kala itu saya tidak naik kelas, karena hampir setiap akhir pekan mendaki dan pelajaran pun tertinggal.

Tetapi salah satu ingatan tertua saya adalah berjalan bersama keluarga di Jerman. Kala itu saya masih SD kelas 1 atau 2 dan kami berhenti di pinggir jalan di lereng gunung dan saya bersama kakak saya yang satu tahun lebih tua menyeberang jalan untuk scrambling di tebing pendek. Kegiatan itu terus teringat oleh saya dan merupakan pengalaman yang menyenangkan yang baru saya alami kembali ketika diajak mendaki tahun 1974 itu.

Sulit buat saya menetapkan satu waktu tertentu yang membuat saya menyukai dunia pendakian.
Sebelum mendaki Gunung Gede tahun 1974 saya mendengarkan cerita kakak saya bahwa ia melewati hutan hujan dan melalui lorong rimbunan semak dan keluar di kawasan terbuka berbatu-batu.

Baca lanjutannya di MountMag Edisi 4…

(Harley B Sastha)